Press "Enter" to skip to content

Ada banyak metode pembayaran digital di Indonesia. Transfer bank, kartu debit, e-wallet, internet banking semuanya tumbuh dalam satu dekade terakhir. Tapi tidak ada yang tumbuh secepat QRIS.

Bank Indonesia mencatat bahwa sepanjang 2025, transaksi QRIS mencapai 13,66 miliar transaksi lebih dari dua kali lipat target yang ditetapkan sebesar 6,5 miliar. Jumlah merchant yang memakai QRIS mencapai 42 juta, melampaui target 40 juta. Pengguna aktif sudah melewati 57 juta orang.

Ini bukan angka yang muncul tiba-tiba. Ada alasan struktural di balik pertumbuhan ini dan memahaminya penting bagi bisnis yang ingin membaca arah pasar dengan tepat.

Dari Nol ke 42 Juta Merchant dalam Lima Tahun

QRIS diluncurkan Bank Indonesia pada Januari 2020. Saat itu, sistem ini belum banyak dikenal. Hanya ada segelintir merchant yang menggunakannya, dan hanya sebagian kecil konsumen yang tahu cara memakai QRIS selain dari aplikasi GoPay atau OVO yang sudah lebih dulu familiar.

Lima tahun kemudian, angkanya berubah drastis. Jumlah merchant QRIS mencapai 42 juta, melampaui target 40 juta yang ditetapkan Bank Indonesia, dan transaksinya mencapai 13,66 miliar transaksi dari target 6,5 miliar transaksi.

Untuk konteks: butuh 33 bulan untuk mencapai nilai transaksi QRIS pertama senilai Rp10 triliun. Di tahun 2024, pertumbuhan Rp10 triliun bisa terjadi rata-rata tiga kali dalam dua bulan. Akselerasi itu tidak terjadi di metode pembayaran digital manapun dengan kecepatan yang sama.

Tiga Alasan Struktural di Balik Pertumbuhan QRIS

Pertumbuhan ini bukan kebetulan. Ada tiga faktor struktural yang mendorong QRIS tumbuh lebih cepat dari semua metode pembayaran digital lain.

1. Satu Standar untuk Semua

Sebelum QRIS, setiap e-wallet punya QR code-nya sendiri. Merchant yang ingin menerima GoPay, OVO, dan Dana harus punya tiga kode QR berbeda dan tiga sistem pencatatan yang berbeda pula. Ini tidak efisien, dan banyak merchant memilih hanya menerima satu atau dua e-wallet saja.

QRIS menyatukan semuanya. Satu kode QR menerima pembayaran dari semua e-wallet, semua mobile banking, dan semua aplikasi keuangan digital yang sudah mendukung standar QRIS. Merchant tidak perlu memilih dan konsumen tidak perlu khawatir soal kompatibilitas.

Standarisasi ini menghilangkan hambatan terbesar adopsi QR payment di Indonesia.

2. MDR yang Ditetapkan dan Dijaga Rendah

Salah satu alasan merchant enggan menerima pembayaran digital sebelumnya adalah biaya yang tidak pasti. Setiap provider punya tarif sendiri, dan negosiasi MDR bisa rumit untuk merchant kecil.

Bank Indonesia menetapkan MDR QRIS seragam untuk semua provider. BI memberikan kelonggaran bagi merchant usaha mikro melalui MDR QRIS 0% untuk transaksi sampai dengan Rp500.000. Ini kebijakan yang secara langsung mendorong UMKM segmen terbesar merchant di Indonesia untuk mengaktifkan QRIS tanpa takut biaya yang memberatkan.

Kebijakan ini juga yang menjelaskan mengapa sebagian besar dari 34,2 juta merchant QRIS didominasi pelaku UMKM.

3. Infrastruktur yang Semakin Merata

Pertumbuhan QRIS tidak hanya terjadi di Jakarta atau kota besar. Tren serupa terlihat di wilayah lain seperti Sumatera Barat dan Bali, di mana nilai transaksi dan jumlah pengguna terus meningkat. Di Sumatera Barat, transaksi QRIS di kuartal pertama 2025 naik lebih dari 174% secara tahunan.

Ini menunjukkan bahwa QRIS bukan fenomena urban ini pembayaran yang sudah menyebar ke seluruh lapisan ekonomi dan geografi.

Apa yang Berubah dari Sisi Konsumen

Data merchant hanyalah separuh cerita. Separuh lainnya ada di sisi konsumen berapa banyak orang yang aktif memakai QRIS dan seberapa sering.

Pengguna QRIS pada Kuartal I 2025 mencapai 56,3 juta orang, naik dari 48 juta di Kuartal I 2024. Jumlah merchant aktif pada periode yang sama mencapai 38,1 juta.

Yang lebih menarik dari angka pertumbuhan adalah perubahan perilaku. QRIS sudah tidak lagi dipakai hanya untuk transaksi besar atau situasi tertentu. Pengguna QRIS melakukan transaksi utamanya untuk pembayaran makanan dan minuma artinya QRIS sudah masuk ke kebiasaan belanja harian, bukan hanya transaksi sesekali.

Ini adalah tanda bahwa QRIS sudah mencapai titik di mana konsumen tidak lagi perlu “diedukasi” untuk memakainya. Mereka sudah terbiasa.

Apa Artinya Ini untuk Bisnis Anda

Tren data di atas bukan sekadar angka makroekonomi. Ada implikasi langsung untuk setiap bisnis yang melayani konsumen Indonesia.

Konsumen yang datang ke toko Anda sudah siap bayar dengan QRIS. Lebih dari 57 juta pengguna aktif berarti hampir setiap konsumen yang masuk ke toko fisik maupun online sudah punya aplikasi yang mendukung QRIS di smartphone mereka. Yang belum tentu tersedia adalah QR code di sisi merchant.

Merchant yang belum punya QRIS semakin terlihat ketinggalan. Ketika 42 juta merchant lain sudah menerima QRIS, tidak adanya opsi ini di toko Anda adalah hambatan yang semakin terasa oleh konsumen bukan sekadar kenyamanan tambahan.

Pertumbuhan tidak melambat. Bank Indonesia menargetkan transaksi QRIS meningkat ke 17 miliar, perluasan QRIS ke 8 negara, 45 juta merchant, dan 60 juta pengguna untuk tahun-tahun ke depan. Artinya, momentum ini masih berlanjut dan bisnis yang mengaktifkan QRIS sekarang masih termasuk yang bergerak lebih awal dari sebagian segmen pasar.

QRIS di iPaymu: Satu Aktivasi, Semua E-Wallet

Bagi merchant yang belum mengaktifkan QRIS, langkah pertamanya satu: daftar sebagai merchant iPaymu dan aktifkan QRIS dari dashboard. Satu kode QR langsung menerima pembayaran dari semua e-wallet dan mobile banking yang mendukung standar QRIS tanpa perlu daftar ke masing-masing platform secara terpisah.

Angka-angka di atas menunjukkan ke mana arah pasar pembayaran Indonesia. Bisnis yang menyesuaikan sistemnya lebih awal punya waktu lebih panjang untuk belajar dan mengoptimalkan bukan mengejar ketinggalan.

Daftar sebagai merchant iPaymu sekarang dan aktifkan QRIS untuk bisnis Anda.

Jadilah Orang Pertama yang Berkomentar!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *